missing-40-percent-book

Organisasi selalu mencari cara untuk mengoptimalkan produktivitasnya.  Salah satu pendekatan yang penting, bahkan bisa jadi paling penting adalah peningkatan produktivitas dari setiap orang yang ada di dalamnya. 

Berangkat dari blog produktivitasdiri.co.id, buku ini berusaha mendorong sebuah diskusi peningkatan produktivitas organisasi, berdasarkan peningkatan produktivitas diri.  Penulis meyakini bahwa produktivitas optimal di dalam organisasi hanya dapat dicapai jika terjadi keterkaitan antarakepentingan individu dan organisasi.  Ketika organisasi membantu setiap karyawannya untuk menemukan hal tersebut maka kesenjangan yang ada antara kondisi saat ini dan ideal (yang dalam buku ini diasumsikan sebesar 40 persen) dapat ditutup.

The Missing 40 Percent bukanlah sebuah buku how to.  Ia sebuah buku yang memberikan inspirasi akan sebuah jalur alternatif peningkatan produktivitas organisasi yang ditulis oleh seorang trainer yang telah mempunyai 20 tahun pengalaman dalam memberikan pelatihan ke berbagai organisasi.

Tentang Penulis

gsuardhika-missing-40-percent

Perjalanan PassionPatience & Ideas

Izinkan saya menggunakan halaman ‘Tentang Penulis’ tidak dengan memuat cv saya, tetapi dengan bercerita mengenai proses perjalanan ide sampai lahirnya buku ini.  Bagi Anda yang ingin mendapatkan informasi tentang penulis dengan lebih detail, silakan kunjungi website saya gsuardhika.com.

Ini suatu catatan kecil yang penting buat saya, dan saya duga bagi sebagian pembaca yang mempunyai rencana untuk menulis buku, catatan ini juga bermanfaat.  Catatan ini saya buat dengan mencoba melacak kembali berbagai file tulisan yang ada di notebook saya, terkait apa isinya dan kapan file tersebut disimpan.  Ketika melakukan ini, saya sendiri dikagetkan oleh bertapa panjangnya proses ini telah saya tempuh.

Saya dapat menyalahkan kecenderungan perfectionist saya untuk (terlalu) panjangnya proses ini.  Kecenderungan lain yang bisa saya salahkan adalah keinginan saya untuk bisa menikmati proses dan enggan mencapai hasil dengan bergegas.  Dengan kata lain lebih senang berorientasi work limit daripada time limit (silakan baca tulisan di blog produktivitasdiri.co.id, edisi 88, Antara Time Limit dan Work Limit). 

               Mimpi untuk menulis buku sudah ada sejak saya kuliah di Fakultas Psikologi UI.  Gemar membaca dan menulis membuat saya memilih menjadi wartawan majalah SWA sebagai profesi pertama saya.  Sayangnya pengalaman wartawan tidak cukup lama saya tempuh, karena kemudian saya mengambil S2 di bidang Manajemen dari Institut Pengembangan Manajemen Indonesia (IPMI). 

               Karena saya orang yang buruk dalam multitasking, maka mimpi menulis buku ini perlu ditunda sampai bisnis konsultansi yang saya bangun telah bisa dilepas ke tim profesional.  Tentunya saya berterima kasih pada tim di kantor saya yang telah memungkinkan hal ini terjadi. 

               Tahun 2003 adalah tahun yang tertera pada file draft tulisan ‘Self Transformation’.  Sebuah rencana buku versi saya mengenai pengembangan diri.  Merasa mempunyai ide yang layak diletakan diantara berbagai buku pengembangan diri, saya memulai tulisan itu, saya duga di awal tahun 2000 an.  Sayangnya semakin lama saya menulis, semakin saya merasa bahwa ide ini terasa ‘tidak penting’, tidak berbeda dengan yang lain dan tidak layak untuk diteruskan.  Sehingga setelah struktur tulisan yang cukup lengkap jadi dan lebih dari 100 halaman selesai saya ketik, saya relakan ide tersebut Cuma berhenti di salah satu folder di notebook dan memory saya saja.

               Intuisi saya mengatakan bahwa kita harus memulai pembahasan dari tujuannya, sehingga fokus saya kemudian bergeser ke pertanyaan berikut:  ‘buku dan diksusi pengembangan diri itu tujuannya apa?’  Lewat berbagai pencarian, maka saya sampai pada satu kata berikut, ‘kebahagiaan’. 

Ketertarikan saya pun bergeser kembali ke disiplin ilmu S1 saya, Psikologi.  Saya beruntung karena gelombang penelitian dan pembahasan psikologi positif, dimana topik ‘kebahagiaan’ menjadi salah satu topik utama, mendapatkan momentumnya sehingga saya menemukan banyak referensi menarik baik terkait hasil penelitian ataupun teori mengenai topik tersebut.  Tahun 2005, menandai tahun dimulainya eksplorasi di area ini.

               Entah mengapa dan bagaimana, saya tidak mengetahui alasan terjadi belokan ide yang berikutnya.  Di folder komputer saya tercatat sebagai 2010 ketika saya mengubah fokus saya dan mulai banyak menulis mengenai Manajemen Waktu, pada saat itu saya gunakan istilah Modern Time Management (istilah yang sama saya pakai untuk salah satu topik pelatihan publik saya). 

Beberapa kemungkinan alasan dapat saya sampaikan di sini.  Pertama.  Bisa jadi karena saya merasa belum mendapat sesuatu yang utuh dari eksloprasi dan penulisan buku saya dalam topik ‘Kebahagiaan’.  Alasan lain, lebih bersifat ekonomi, yaitu saya merasa topik ini tidak mempunyai nilai komersial yang baik.  Maka kejadian pun berulang, setelah sekitar 100 halaman tulisan dan berbagai kemungkinan struktur buku saya siapkan, saya meninggalkan topik tersebut.

               Topik kebahagian dan topik-topik lain di dalam psikologi positif tetap menjadi sesuatu yang dekat di hati saya.  Saya menyempatkan untuk mengikuti beberapa konferensi internasional terkait dengan topik ini, dengan harapan suatu saat saya memiliki kesempatan untuk menuliskan buku dalam area ini.

               Pembaca, menulis buku memang sebuah aktivitas yang memerlukan ‘nafas panjang’.  Kalau dihitung dari dimulainya saya mencoba menulis buku di awal 2000 an, maka sudah hampir 10 tahun saya memikirkan berbagai ide dan menuliskan ratusan halaman, namun tidak juga lahir suatu karya.

               Bila saya sangat berorientasi hasil dan dead line, mungkin saya sudah memutuskan untuk menghentikan seluruh proses yang terasa sia-sia ini.  Namun, karena saya cukup menikmatinya dan merasakan pentingnya hal ini bagi hidup saya, maka saya memantapkan diri untuk meneruskan langkah ini. 

               Ada saat dimana saya mempertanyakan kemampuan saya untuk menuangkan ide dalam buku karena bagi beberapa penulis yang saya jadikan idola atau paling tidak menjadi acuan saya, maka dalam usia saya saat itu mereka sudah membuat 3 sampai 4 buku best seller.

               Dengan kekhawatiran tersebut tidak heran bila pada 2012/2013, setelah sekitar 4 tahun saya berkutat dengan topik Manajemen Waktu, saya memaksakan untuk menyelesaikan buku saya apa adanya. 

               Sayangnya, seperti juga saya, rekan-rekan yang saya minta untuk mengomentari draft pertama buku tersebut merasa kecewa dengan ‘berantakan-nya’ draft buku tersebut, yang juga berarti berantakannya pemikiran saya.  Di sinilah saya memahami bahwa ketika kita mempunyai sebuah standard yang tinggi dan memaksakan pendekatan time limit kepadanya maka hasilnya pun akan sia-sia.  Ibarat menghidangkan masakan yang belum matang.

               Sekali lagi, setelah lebih dari 100 halaman draft buku mengenai Produktivitas Diri dibuat, saya kembali ke ‘drawing board’ untuk memikirkan ulang mengenai konsep yang ingin saya bangun.

               Izinkan saya melakukan pembelaan diri sejenak.  Ada berbagai jenis buku yang bisa ditulis seseorang dalam area non fiksi.  Ada yang menggunakan pendekatan popular berangkat dari pemahaman atapun pengalaman.  Ada yang menggunakan pendekatan integrasi, mencoba menggabung berbagai referensi dan menampilkannya dalam suatu topik tertentu.  Biasanya ini dibuat oleh para akademisi yang ingin membuat tulisan populer di area topik yang mereka kuasai.  Buku yang tengah Anda baca ini, mempunyai target dan keinginan yang lebih ambisius dari itu.  Ia mencoba melahirkan suatu konsep dan ide baru.

               Pada yang terakhir ini, diperlukan pemahaman mendalam dari berbagai topik dan literatur terkait sebelum dapatmembangun model yang baru.  Bila pemahaman mendalam belum dicapai, maka kita hanya akan menawarkan kebingungan pada pembaca.

               Rupanya itulah yang terjadi pada draft pertama buku produktivitas diri dan itulah yang membuat saya menahan diri dan kembali bersabar dengan proses pembentukan pemahaman saya.  Draft tersebut baru akan saya olah lagi ketika membuat buku utama produktivitas diri yang berisi Model Produktivitas Diri.  Insya Allah buku utama ini akan menjadi buku ketiga dari seri buku Produktivitas Diri.

               Setelah lebih dari satu tahun menggali lagi pemahaman saya mengenai ini, lewat suatu diskusi di rapat rutin manajemen, saya memutuskan untuk memulainya dengan  menulis blog.  Satu september 2015 adalah saat dimulainya penayangan blog produktivitas diri.  Dan akhirnya sebuah buku yang diangkat dari blog tersebut berada di tangan Anda saat ini.  Menjadi buku pertama saya.  

               Pendekatan blog yang saya gunakan di buku ini membebaskan diri saya dari keharusan membuat struktur pembahasan yang sistematis dan membiarkan pembaca untuk membangun ‘tafsir’ dan benang merah-nya sendiri. 

Menulis blog secara konsisten dalam jangka waktu yang cukup lama mau nggak mau juga membantu saya untuk membuat pemahaman yang lebih dalam dan sistematis yang Insya Allah akan dikeluarkan di buku utamanya,  yang akan membahas empat proses utama dari Model Produktivitas Diri.

Dengan demikian setelah hampir 20 tahun berlalu, tiga draft buku dibatalkan atau ditunda, lebih dari 400 halaman telah dibuat dan gagal ataupun belum bisa sampai ke tangan Anda.  Akhirnya, sebagian ide yang ada berlabuh di buku ini.  Dengan mengucap syukur pada Allah SWA, passion dan ide ini sampai pada suatu tahap yang baru.  Sebuah buku pertama, yang merupakan awal dari tahap berikutnya dalam menggulirkan konsep Produktivitas Diri.  Semoga Allah berkenan dengan semua upaya ini.  Aamiin.

(diambil dari buku ‘The Missing 40 Percent)

Close Menu