Rabu, 21 Maret 2018

Profesionalisme dibangun di atas nilai-nilai positif yang menunjukan karakter dan perilaku tertentu.  Pada kesempatan ini, marilah kita mencoba mendiskusikan beberapa value utama pembentuknya.

Pertama adalah usaha optimal.  Seorang profesional akan selalu berusaha untuk optimal, baik dalam pengembangan dirinya, dalam menghasilkan sesuatu ataupun dalam memberikan yang terbaik pada saat berinteraksi.

Memang ada beda tipis antara berusaha maksimal dan perfectionist.  Seorang perfectionist mengerjakan sesuatu untuk hail terbaik bukan dalam konteks pencapaian kinerja kerjanya, tetapi lebih karena ia terobsesi dengan hasil terbaik sehingga lebih baik sedikit yang dikerjakan asal hasilnya sempurna.  Persoalannya dalam banyak kasus, pekerjaan kita menuntut banyak hal yang diselesaikan, dengan tingkat kesempurnaan berbuda.

Seorang profesional mengharapkan yang terbaik tidak hanya dari dirinya, tetapi juga dari rekan kerjanya.  Dia mengembangkan awareness yang memungkinkan ia menjaga keberimbangan tuntutan tersebut, artinya tidak menuntut lebih dari orang lain tetapi ia sendiri bekerja seadanya.

Dorongan untuk optimal juga diikuti oleh pemahaman akan situasi yang ada.  Dengan demikian ia bersedia menerima keterbatasan dan adanya kejadian yang tidak diperkirakan sebelumnya (force majeur) yang menyebabkan tidak terpenuhinya target.  Namun tentu ia akan melakukan recovery optimal, bila itu terjadi pada dirinya dan berharap yang sama dari rekan profesionalnya.  Dengan demikian, profesional akan menjaga hak dan kewajiban secara seimbang.  Tidak ngotot di hak nya tetapi mengabaikan kewajibannya.

Keadilan adalah value utama berikut dari profesionalisme.  Keadilan di sini dalam arti keseimbangan kontribusi bagi para stake holder terkait.  Untuk mencapai nilai keadilan, keterbukaan menjadi nilai yang didorong semaksimal mungkin.  Keadilan dan keterbukaan ini juga mendorong profesional (mereka yang berpegang pada nilai profesionalisme) menghargai kejujuran.

Dengan memperhatikan nilai-nilai di atas, berinteraksi (transaksi) dengan seorang profesional akan membuat kita tenang, karena kita tahu dia jujur dalam menyampaikan kualifikasi dan kompetensinya dan akan selalu berusaha maksimal dalam melakukan pekerjaannya.  Dia juga tidak akan melakukan korupsi dan memperhatikan serta memperjuangkan berbagai kepentingan stake holder-nya.

Pertanyaan berikutnya mungkin ini: apakah mungkin seorang mengambil sebagian nilai-nilai profesionalisme dan meninggalkan yang lainnya.  Seorang berusaha optimal tapi tidak jujur.  Seorang tidak korupsi tetapi kerja seenaknya saja.

Saya akan serahkan pada para pembaca untuk menilai kemungkinan tersebut.   Memang tidak jarang kita temui orang yang mendukung sebagian nilai dan menolak yang lainnya.  Mungkin kita hanya perlu bertanya pada diri sendiri, bagaimana rasanya bila kita berada di posisi yang dikorbankan: ditipu (tidak jujur), diabaikan hak nya, diberikan hasil kerja yang buruk sehingga akhirnya kita yang harus memperbaiki dan mengatasi kerugian yang ditimbulkan.

Pada tataran value diskusi mengenai profesionalisme tidak akan banyak menimbulkan debat.  Namun, ketika dibawa ke tataran praktis, baru kita akan menemukan komplikasi dalam mengevaluasi sebuah tindakan itu profesional atau tidak.  Diskusi mengenai berbagai kasus tersebut, Insya Allah akan kita bahas pada kesempatan lain.

G. Suardhika

Soft Skills Trainer