Rabu, 28 Pebruari 2018

Dari ketiga aspek profesional: compliance, optimum dan etika, maka etika adalah yang paling abstrak dan sulit untuk dipenuhi.  Profesionalisme sebagai sebuah gerakan etis, memang tidak bisa didekati sepotong-sepotong.  Kebanyakan orang menggunakan istilah profesional bukan dengan pemahaman dan keberpihakan pada etika profesionalisme, lebih sebagai alat untuk menekan pihak lain ketika ada harapan yang tidak terpenuhi.  Ketika seorang tidak melakukan pekerjaan dengan baik, maka dibilang tidak profesional.  Ketika supplier tidak memberikan barang tepat pada waktunya disebut tidak profesional.

Etika profesional dibangun dari berbagai nilai, seperti transparansi, kejujuran, upaya optimal, keadilan, dan lain sebagainya yang akan kita coba uraikan dengan lebih detail pada tulisan yang lain.

Komplikasi pengembangan etka profesional akan lebih terasa ketika kita mencoba menerapkannya dalam koteks organisasi.  Diantaranya karena alasan-alasan berikut ini.

Pertama.  Untuk tegaknya sebuah etika yang baik tentunya tidak hanya memerlukan pemahaman tetapi juga contoh.  Organisasi kadang berusaha untuk memberikan pemahaman mengenai etika yang dijunjung tinggi organisasi tersebut baik melalui orientasi ataupun melalui pengembangan budaya perusahaan, namun bila tidak ada komitmen leader untuk menjunjung hal tersebut maka upaya ini akan sia-sia, karena apa yang disampaikan tidak sama dengan apa yang dilakukan.

Kedua.  Menyampaikan berbagai nilai etika saja secara umum relative mudah tetapi mendeskripsikan dengan jelas melalui berbagai contoh kasus jauh lebih sulit.  Apalagi bila kemudian kita mengembangkan sistem untuk dapat memonitor dan memaksakan tegaknya etika tersebut.

Ketiga.  Organisasi juga tidak bisa menekankan sebuah tindakan etis di satu sisi tetapi melakukan tindakan tidak etis di sisi lain.  Menjaga service ke klien tetapi tidak mengkompesasi dengan baik lemburnya karyawan, misalnya.  Atau malah meminta agar bagian keuangannya membayar supplier-nya selama mungkin.

Mengupayakan agar etika profesional dijaga pada semua stake holder memerlukan komitmen tinggi dari manajemen.

G. Suardhika

Soft Skills Trainer