Jenis sasaran pelatihan berikutnya adalah skillsSkills umumnya mengacu pada suatu set perilaku tertentu yang dibangun di atas pengetahuan dan sikap yang benar.  Set perilaku tersebut bila dijalankan dengan baik akan membawa kita pada hasil yang optimal.

Skill practicing dalam sebuah pelatihan mempunyai range yang cukup luas dari sederhana sampai kompleks.  Yang sederhana misalnya, bagaimana cara mengoperasikan sebuah mesin sederhana.  Dengan bekal manual dan SOP, pelatihan akan fokus pada bagaimana menjalankan SOP setahap demi setahap.

Sementara itu mengembangkan ketrampilan Soft skills, umumnya masuk ke dalam pengelompokan ketrampilan yang kompleks.  Misalnya, dalam pelatihan coaching skills, kita bisa melakukan role playing coaching berkali-kali, namun bisa jadi ketika leader kembali ke tempat kerja, ia akan menemui berbagai tipe staf dengan tantangannya sendiri.  Ataupun, ia tidak mendapat kan dukungan dari atasannya, karena atasan tidak merasa coaching itu penting.  Atau bisa juga besarnya beban kerja yang dihadapi, ditambah lagi penekanan yang besar pada target menyebabkan kita merasa melakukan coaching adalah sebuah ‘kemewahan’.

Dengan kompleksitasnya ketrampilan coaching dan soft skills lainnya, maka output ketrampilan dari hasil pelatihan coaching tidak bisa disamakan dengan sebuah pelatihan teknis pengoperasian mesin sederhana.  Untuk menguasai sebuah ketrampilan soft skills, keberanian mencoba, kemampuan belajar dari pengalaman dan lamanya pengalaman itu sendiri akan sangat menentukan peningkatan ketrampilan soft skills tersebut.  Ibaratnya pelatihan hanya bisa membawanya sampai kepada penguasaan ketrampilan mendasar, sisanya diperlukan ‘jam terbang’ yang cukup panjang untuk sampai ke level master.

Pada kebanyakan pelatihan soft skills, terjadi campuran antara berbagai sasaran tersebut: Inspirasi, Insight, Perspektif dan Skills.  Menjadikan peningkatan Ketrampilan sebagai sasaran, sebaiknya tetap memperhatikan diperolehnya Perspektif yang memadai mengenai ketrampilan tersebut dan pemberian Inspirasi/motivasi untuk melaksanakannya sehingga ketrampilan yang dipelajari tidak sia-sia.

Untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan kemampuan trainer untuk menggabungkan berbagai tujuan tersebut di dalam disain pelatihannya dan pengelolaan expectacy Manajemen atas output dari pelatihan, agar perubahan perilaku yang diinginkan bisa diperoleh di tempat kerja.

G. Suardhika
Soft Skills Trainer
Competency Development Trainer