Pelatihan juga dapat memberikan perspektif bagi peserta.  Perspektif sering juga disebut sebagai mind set, sebuah sudut pandang baru, pemahaman yang baru, yang dengan hal tersebut maka peserta dapat lebih mudah memahami permasalahan yang dia hadapai ataupun peran dan pekerjaan dia pada umumnya.

Bayangkan kalau kita tengah tersesat di hutan, lalu tiba-tiba ada sebuah tangan raksasa yang mencengekeram badan kita mengangkat kita ke atas, melewati pucuk pohon tertinggi dan membantu kita untuk bisa mengedarkan pandangan 360 derajat….

‘ooh di selatan ada kampung, kalau kita berjalan agak kesana sedikit ada jalur yang lebih nyaman, sedangkan kalau kita lurus dengan arah kita sekarang maka kita akan ketemu sungai yang penuh buaya, dan sebagainya dan sebagainya…’

Nah itulah perspektif.  Tangan yang mengangkat itu, bisa dibilang pelatihan kita.  Perspektif yang baik akan menyederhanakan perspektif kita dan mempermudah kita untuk menemukan akar masalah dan langkah berikutnya.  Kata kunci dari perspektif yang baik bukan di kompleksitas sudut pandangnya, tetapi justru di kesederhanaan yang merupakan hasil pemahaman yang mendalam.

A good perspective mempunyai ciri-ciri: berbasis ilmiah ataupun berdasarkan pendapat ahli dalam bidang tertentu, make sense, sederhana dan applicable.  Untuk bisa memperbaiki perspektif kita kesediaan peserta pelatihan untuk bisa jujur dengan dirinya dan mengoreksi perspektif yang salah, bila diperlukan.

Perspektif yang baik biasanya juga mempunyai basis ilmiah.  Dengan disiplin ilmiah lah, perspektif ataupun teori yang ada didekatkan dengan fakta.  Tanpa basis ilmiah, kita bisa jatuh pada perdebatan yang tidak jelas.  Bila basis ilmiah dari sebuah konsep kurang kuat, maka pendapat ahli dan common sense adalah patokan berikutnya.  Common sense masih bisa mengundang perdebatan, khususnya bila seseorang lebih mengedepankan ego dan pengalaman subyektif.  Tetapi seseorang dengan tingkat intelektual yang baik umumnya akan sampai pada common sense yang sama.

Applicable.  Sebetulnya tidak banyak konsep yang tidak applicable sepanjang sudah dibangun dari 3 fondasi di atas: ilmiah, pendapat ahli dan common sense.  Persoalanya lebih kepada gap antara konsep tersebut dengan situasi yang ada.  Kalau situasi di suatu perusahaan begitu uniknya ataupun begitu menyimpangnya, maka bisa jadi gap yang ada jadi lebih besar.  Tetapi peserta yang baik akan memahami hal tersebut dan menunggu peluang untuk aplikasinya.  Peserta yang malas akan langsung berkomentar bahwa materinya tidak praktis.

Mengenai aspek terakhir, skill, kita akan bahas di tulisan berikutnya.

G. Suardhika
Soft Skills Trainer
Competency Development Trainer