‘Kami ingin para pemimpin di sini lebih bisa mengambil keputusan dengan baik’.  Itu salah satu ungkapan yang sering saya temui ketika saya bertanya kenapa pelatihan soft skills tersebut diperlukan, misalnya pelatihan decision making.

Saya mempunyai kecenderungan untuk mengambil posisi Devil’s Advocate dalam ketika mengelaborasi kebutuhan pelatihan.  Saya selalu ingin memastikan bahwa memang perusahaan benar-benar memerlukan pelatihan soft skills tersebut.  Dari perspektif sales, sebagai konsultan yang sedang menawarkan pelatihan ini, bisa jadi saya salah.

Perusahaan sudah bilang memerlukan training itu, ya sudah… tinggal tanya saja, sasarannya siapa, kapan dilaksanakan, dan seterusnya.  Tapi, ya…saya selalu ingin mengupayakan optimalnya efektivitas sebuah pelatihan soft skills, karenanya jalur itu lah yang saya tempuh….

Biasanya pertanyaan ‘netral’ yang saya ajukan berikutnya adalah, ‘ada concern spesifik tertentu, kenapa pelatihan soft skills tersebut dibutuhkan?’, ‘mungkin ada kasus tertentu atau apa…’

Probing terhadap sebuah kebutuhan pelatihan seringkali membuat saya menyimpulkan, intervensi pelatihan dipilih karena itulah yang paling mudah disimpulkan (ingat blame bias?) atau karena intervensi itulah yang paling kecil investasinya.

Coba kita lanjutkan contoh kebutuhan pengambilan keputusan.  Ini adalah beberapa penyebab yang bisa menjadi sumber kenapa para manajer kurang optimal dalam pengambilan keputusan:

  • Budaya yang tidak menghargai usaha, dan cenderung menghukum kesalahan, sehingga manajer tidak berani mengambil keputusan dan ‘melempar’ sedapat mungkin ke pihak lain atau menundanya.
  • Role yang tidak jelas, sehingga manajer tidak yakin lingkup area pengambilan keputusannya
  • Direktur yang bertipe commanding dan centralized, sehingga bawahannya merasa yang penting tunggu perintah atasan.
  • Manajer yang tidak berani dan tidak mampu mengambil keputusan, walau ia berada pada lingkungan yang mendukung hal tersebut.

Biasanya begitu saya mendapatkan permintaan tersebut, maka saya memulai sebuah proses untuk mencari penjelasannya.  Apa yang dimaksud dengan ‘pengambilan keputusan yang baik’ dan ‘apa yang menyebabkan mereka tidak melakukan hal tersebut’?

Tentunya sulit mengharapkan perubahan yang relatif permanen dengan intervensi pelatihan, bila permasalahan sesungguhnya bukan di aspek pelakunya, tetapi di budaya, sistem ataupun manajemen/atasannya.

Dalam konteks pelatihan soft skills, permasalahan memang akan sedikit lebih kompleks dan memerlukan keahlian untuk mencari akar masalahnya.  Serta keberanian untuk jujur mengakuinya.

G. Suardhika
Soft Skills Trainer
Competency Development Trainer