Saya tengah membaca sebuah buku yang fascinating…highly recommended.  Kalau Anda seorang pelatih bola, tentunya anda sangat familiar cara bermain bola.  Setiap buku tentang bola yang Anda baca hanya akan menambah satu atau beberapa teknik baru dalam mengatur permainan bola tim Anda.  Namun, ada saat, dan ini biasanya jarang, dimana Anda ketemu buku yang bisa membuat Anda mengubah perspektif Anda secara total mengenai cara bermain bola, nah itulah kurang lebih yang saya rasakan ketika membaca buku ini.

Sebagai advokat dari pentingnya motivasi intrinsik, ataupun pentingnya happiness di tempat kerja, terhadap kinerja Perusahaan, saya merasa senang menemukan buku ini yang sejalan dengan semangat itu tetapi menyampaikan secara sistematis dan didasari berbagai researchPrimed to Perform dari Neel Doshi dan Lindsay McGregor adalah buku yang saya maksud.  Saya tidak akan membahas buku tersebut, tetapi hanya akan membahas satu konsep di dalamnya yang relevan dengan pelatihan, Blame Bias.

Satu kelompok peneliti Eropa melakukan penelitian mengenai kecelakaan kerja di pabrik dan tambang di Ghana.  Salah satu hal yang mereka teliti adalah persepsi antara rekan kerja yang familiar dengan pekerjaan dimana terjadinya kecelakaan kerja, dibandingkan dengan rekan kerja yang tidak begitu familiar.  Apa yang mereka temukan?  6 persen dari rekan kerja yang familiar menyebutkan kesalahannya ada pada faktor orang, dibandingkan dengan 44 persen dari rekan kerja yang tidak familiar.  Artinya semakin kita tidak paham dengan kondisi yang ada semakin kita membebankan kesalahan pada human factor (halaman 74).

Blame bias, ditambah dengan kecenderungan untuk mencari solusi yang paling cepat dan ‘murah’ seringkali menyebabkan Manajemen dengan cepat menyimpulkan training sebagai solusi.  Padahal seringkali penyebab utamanya justru di situasi, sistem dan budaya.  Dan intervensi di orang tidak akan membawa perbaikan yang relatif permanen.

Quick decision seperti itu biasanya hanya menunjukan kemalasan kita untuk mencari akar masalah dan mengembangkan solusi yang lebih efektif.

G. Suardhika
Soft Skills Trainer
Competency Development Trainer