Ketika muda, baru lulus kuliah, di umur 20 an, atau 30 an, kita masih sering menggunakan pandangan masa depan: nggak papa ber-rakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian.  Saya berjuang untuk masa depan saya.  Ketika kita gagal atau melihat orang lain berhasil, bisa jadi kita berkata, ok next time kita akan berhasil atau bahkan, lebih berhasil dari dia…  Tapi ketika kita sampai di akhir 40 an atau di usia 50 an, maka, the future is now

Welcome to masa depan, friends

Bila Anda, berasal dari angkatan yang sama dengan saya, inilah masa depan.  Tidak ada lagi kata menunggu masa depan, karena kita sudah di masa depan.  Jangan lagi berharap akan masa depan yang cerah, karena ini-lah masa depan.  Sudah harus mulai membatasi mimpi dan membuat mimpi yang realistis saja karena…inilah masa depan.

At 50es, sebagian dari kita tengah mencapai peak career-nya.   Yang berkarir di organisasi, paham bahwa ia sudah akan pensiun dalam 5 atau 6 tahun ke depan, kecuali ada skenario yang istimewa yang dapat menjadikan karir organisasinya istimewa.  Yang tidak di organisasi, paham bahwa fisiknya sudah mulai ‘soak’ sehingga harus sudah mulai mengukur ambisi.

Penampilan mungkin masih bisa dicoba mengikuti ‘anak muda’ tetapi salah-salah kita bisa dilihat norak.  Tampil apa adanya, tanpa terlihat outdated atau terlihat ‘tua sebelum waktunya’ (angkatan saya bisa jadi ingat lagu Odie Agam dengan lirik seperti itu), menjadi sebuah tantangan tersendiri.  Kita ingin tampil sebagai 40an, bukan 70an…hehehe…

Menjadi 50an merupakan tantangan sendiri.  Kita bisa jatuh pada penyesalan diri karena masa depan ternyata berbeda dengan masa depan yang kita bayangkan.  Tetapi di sisi lain, kita bisa berada pada kematangan dan rasa syukur di usia 50 karena berarti sebagian (besar) jalan hidup telah kita lalui, dan kita (harapannya) telah mencapai kematangan yang dibutuhkan untuk menghadapi usia akhir dengan baik.

Menyeimbangkan antara optimistik dan realistik tidak lah mudah.  Optimisme 50 an sudah harus berbeda dengan 30 an.  Kita perlu mengukur waktu, kondisi kita.  Perlu menjaga diri untuk tidak terlalu bersemangat sehingga menjalani kehidupan yang tidak seimbang.  Seimbang antara fisik dan psikis.  Seimbang antara dunia dan akhirat.  Tetapi jangan sampai juga jatuh pada pesimisme sehingga akhirnya kita ‘kehilangan semangat hidup’.

Bagaimana kita bisa menikmati future (maksudnya saat ini) tanpa menyesali apa yang sudah kita capai, merupakan tantangan usia 50.  Kalau masa mudah bisa dipenuhi harapan, masa tua harus dipenuhi realitas dan kesabaran dalam porsi yang pas dengan harapannya.

Kematangan, kemampuan menjalani meaningfull life, fokus dan kadang-kadang boleh juga menertawakan anak-anak mudah dengan ambisi dan kelakuaan yang ‘aneh’.  Perlu menjadi edge dari si 50 an…. are we ready?

G. Suardhika
Soft Skills Trainer
Competency Development Trainer