Kalau ada praktek manajemen yang berkembang pesat di Indonesia, bisa jadi itu pemasaran. Warteg sekarang meriah dengan spanduk tulisan besar.  Judul rumah makan juga makin menantang, mulai dari bebek mercon, bebek melotot, ayam terbang, belum lagi martabak, serabi, dan lain sebagainya.  Salon tampil dengan disain yang beragam dan ‘wah’. 

Sudah tidak aneh bagi kita, bila setiap hari kita menerima tawaran via sms atau bb atau telepon, mulai dari asuransi, kartu kredit, jasa penutupan kartu kredit sampai penjualan produk yang sebetulnya tabu, terkait pornografi.

Ini tentu sebuah perkembangan yang baik, sayangnya tidak dibarengi perkembangan aspek  lain dari bisnis, pengembangan produk.  Sebagian besar inovasi produk yang memasarkan langsung ke konsumen, hanya melakukan repackaging saja

Over sales & marketing, under produk development tentunya agak memprihatinkan bila kita melihat bahwa yang terjadi adalah berhasil membujuk pelanggan baru ke suatu produk untuk kemudian kecewa dengan produk tersebut.

Marketing memang lebih menarik dari pengembangan produk, karena ia terkait dengan hasil jangka pendek.  Sementara itu pengembangan produk membutuhkan investasi dan kesabaran yang bisa ber resiko terhadap cash flow.

Tetapi jangan lupa ketika kita hanya membuka restoran tanpa produk yang kuat maka yang terjadi juga investasi yang sia-sia.  Adalah sebuah hal biasa melihat sebuah tempat disewa oleh satu restoran untuk beberapa bulan saja, sebelum berganti dengan restoran lain.  Hampir-hampir seperti melempar dadu saja, ‘kita coba, mana yang laku’.

Memang ada beberapa contoh produk buruk yang berhasil dijual banyak karena marketing yang berhasil.  Namun, akan berapa lamakah keberhasilan itu?  Dan berapa banyak kah konsumen yang dibuat kecewa karena merasa dibohongi dengan produk yang tidak sesuperior janjinya?  Dan, pada ujungnya, apakah memang kita ingin dikenal sebagai pengusaha yang seperti itu.

G. Suardhika
Soft Skills Trainer
Competency Development Trainer