Paling sulit menghadapi orang yang sudah mencapai level MoE (Master of Excuses).  Mereka sangat cepat menjawab dan sangat pintar menemukan excuses yang membenarkan dirinya untuk berada di comfort zone.

Saya tidak mampu.  Orang tua tidak mengajarkan saya demikian.  Saya sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya.  Ini memang nasib saya.  Ini gara-gara Boz yang tidak perhatian.  Perusahaan memang hanya membela kepentingannya sendiri.

Bukannya apa yang mereka bilang tidak benar.  Bukan.  Tetapi apa yang mereka bilang bukan penyebab utama hambatan mereka.  Bahkan bisa jadi kontribusinya sangat kecil, tetapi mereka mem-blow out of proportion…atawa lebay.

Dalam kondisi ini, susahnya adalah bahwa apapun yang akan kita katakan, tidak akan bermanfaat.  Karena keahlian mereka sudah sebegitu tingginya sehingga mereka pasti menemukan alasan lain untuk meng-counter-nya.  Itulah lapis demi lapis excuses.

Ketika itu terjadi pada orang-orang terdekat kita, itu memang membuat sedih.  Bagaimanapun sebenarnya dia hadir karena satu alasan kuat, menjaga ego yang lemah.  Karenanya sepanjang kepercayaan diri dan self unconditional love minim, maka akan sulit untuk meruntuhkan hal tersebut.

Yang juga penting terntunya ini.  Seberapa besar penyakit yang sama menjangkiti diri kita.  Seberapa jauh hal yang kita sampaikan itu reason (alasan sebenarnya) atau excuses (mencari-cari alasan).  Bisa jadi kita memang perlu selalu introspeksi diri ketika menghadapi orang seperti itu.

G. Suardhika
Soft Skills Trainer
Competency Development Trainer