Siang itu bisa jadi saya baru memahami apa arti sebenarnya dari blue ocean.  Bahwa Blue Ocean Strategy memiliki resiko yang cukup besar.  Saya sendiri belum pernah membaca buku tersebut.  Buku yang terbit pada 2005, karangan Profesor INSEAD, W. Chan Kim dan Renee Maubourgne, dari kaca mata awam saya, mengingatkan pembacanya akan keuntungan untuk mengembangkan area blue ocean kita sendiri, daripada masuk ke red ocean yang di-merah-kan oleh persaingan yang keras.

Kisahnya berawal dari ketika saya mulai menggulirkan tulisan saya mengenai produktivitas diri dalam blog produktivitasdiri.co.id.  Kami menemukan sulitnya mengangkat traffic ke blog tersebut.  Hitungan pengunjung setiap harinya masih sangat kecil, walaupun blog itu telah disupply 2 artikel per minggu.

Blog ini lahir dari keinginan saya untuk mencari konsep apa dalam area personal development yang ingin saya kembangkan.  Kurang lebih 5 tahun mencari apa paling pas, dari mulai topik Transformasi Diri sampai kepada Kebahagiaan.  Akhirnya saya memutuskan untuk mulai dari ‘basic’.  Yaitu bagaimana kita mengelola kesibukan kita sehingga mendapatkan produktivitas optimal.  Titik berangkat konsepnya sebetulnya dari konsep Manajemen Waktu, namun kemudian saya mencoba mengintegrasikan berbagai konsep lain yang terkait, seperti engagement, manajemen enerji, manajemen perhatian, manajemen prioritas, procrastination, dll, dan menamakannya Produktivitas Diri.

Tidak ada yang salah dengan konsepnya, paling tidak itu pendapat saya.  Dan saya sendiri puas dari segi konseptual, tetapi dari evaluasi yang ada, tampaknya blog tersebut tidak memancing pengunjung yang kita harapkan, terutama dari segi kuantitasnya.

Berdasarkan hasil analisis SEO, tim manajemen kemudian mengarahkan saya untuk memperbanyak isi blog dengan keyword yang lebih sering dicari orang, dengan kata lain keyword yang lebih dikenal.  Buat Anda yang familiar dengan upaya pemasaran via internet, maka Anda tentu paham bahwa SEO (search engine optimization) adalah upaya untuk memastikan meningkatnya kuantitas dan kualitas pengunjung ke web kita.

Dalam bahasa Blue Ocean Strategy, upaya memperbanyak keyword dengan tipe tersebut, bisa jadi adalah sebuah strategi Red Ocean.  Jelas upaya itu akan lebih mendatangkan traffic, namun pada saat bersamaan akan mengubah isi dari blog tersebut.

Pendekatan SEO, menurut saya, adalah pendekatan yang terutama bergerak di red ocean strategy.  Dia mencari keyword yang banyak dicari orang yang terkait dengan produk yang kita tawarkan, lalu mengupayakan agar web kita secara proporsional berisi keyword tersebut, sehingga Mesin Pencari akan melihat bahwa web kita lah yang paling pas diletakan di urutan atas ketika orang mencari kata tersebut.

Produk saya, produktivitas diri, adalah sebuah kategori sendiri, sebuah istilah sendiri, bahkan bisa jadi istilah yang menyimpang dari pemahaman orang selama ini mengenai produktivitas.  Karenanya tidak aneh bila kemudian perlu upaya untuk meng-educate market agar mereka mencari tahu dan membutuhkan produk tersebut.  Namun masalahnya adalah bagaimana caranya dan berapa lama waktu yang diperlukan.

Saya sendiri menikmati proses ini dan walaupun secara ekonomi belum begitu menghasilkan, tetapi saya bisa bersabar dalam proses.  Tapi, nah ini dia, bagaimana kita mempertemukan kepentingan jangka panjang dan jangka pendek (baca: menghasilkan uang)?

Tampaknya saya harus lebih banyak belajar mengenai konsep Blue Ocean Strategy, sehingga menemukan cara untuk membangun jembatan antara red ocean dan blue ocean.  Atau, bisa jadi saya perlu memperbaiki style menulis saya.  Atau, …

Saya dalam dilema.  Comfort zone saya mengatakan satu hal, need saya mengatakan hal yang lain.

Maret 2016

G. Suardhika
Soft Skills Trainer
Competency Development Trainer